“Merupakan hal yang wajar bila kita tidak segera jatuh cinta
pada bayi kita saat pertama kali melihatnya...,” demikian sebuah kalimat yang
saya ingat dari buku Ensiklopedi Bayi terbitan Erlangga.
Saat itu, saya tercenung. Apakah mungkin orang tua
mengalaminya? Bagaimana mungkin orang tua tidak jatuh cinta pada anaknya? Lalu,
apa yang terjadi, bila orang tua tidak kunjung mencintai anaknya?
Pertanyaan-pertanyaan ini pun terjawab pada kalimat berikutnya,
“Seiring waktu, orang tua akan merasakan jatuh cinta.”
Seiring waktu, itulah ternyata yang dibutuhkan. Sementara
itu, pembicaraan tentang waktu, sedikit banyak akan menyinggung apa yang kita
namakan kesabaran.
Tidak, saya tidak ingin membicarakan –apalagi berceramah
tentang kesabaran. Saya lebih ingin membicarakan pentingnya memperhatikan
hal-hal positif dari anak kita. Minimal, kita perlu bersyukur bahwa anak kita
senantiasa diberikan Allah Ta’ala kesehatan.
Berikutnya, ada baiknya kita mulai membangkitkan pikiran
bahwa setiap anak begitu unik. Setiap anak memiliki paket rejeki yang
berbeda-beda dari-Nya. Dalam hal ini, ada baiknya kita membuka hati kita untuk
menerima paket rejeki yang berbeda-beda. Sedikit saja kita menolaknya, perasaan
tidak nyaman pasti akan muncul. Bila ini diteruskan, tentu rembetannya
kemana-mana bukan?
Lebih mendasar lagi, mungkin sudah waktunya bagi kita untuk
pasrah kepada-Nya. Apapun yang diberikan oleh-Nya, kita terima. Selanjutnya,
kita dapat memikirkan bagaimana cara mengolah anugerah yang diberikan-Nya
tersebut.
Kita sudah mengetahui dan memahami betapa Allah Ta’ala
memiliki cara yang terkadang jauh dari kemampuan nalar kita. Bila sudah
demikian, sudah sekuat apakah pasrah kita kepada-Nya? Dan, seberapa mudah kita
menerima dan mencintai anak-anak kita sebagaimana telah ditetapkan oleh-Nya?
Selamat jatuh cinta pada anak-anak kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar