Minggu, 07 Oktober 2012

Bercermin pada Rasulullah SAW dalam Mendidik Anak



“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, lalu kedua orangtuanya yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Baihaqi).
“Apabila manusia mati maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, atau anak shaleh yang mendo’akannya.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah)
Salah satu amal yang tidak pernah terputus pahalanya sekalipun kita telah meninggalkan dunia ini adalah anak yang shaleh. Doa anak yang shaleh merupakan salah satu doa yang insya Allah pasti terkabul. Karenanya, orangtua harus mendidik anak dengan sebaik-baiknya. Jika tidak, anak akan tumbuh menjadi seorang yang berkepribadian rusak dan hancur yang pada gilirannya akan merugikan orangtua itu sendiri.
       Sesungguhnya memang tidak mudah memikul beban untuk membesarkan anak hingga menjadi pribadi yang kita harapkan dapat meraih sukses dunia dan akhirat. Apalagi di zaman sekarang ini, di mana banyak tantangan yang harus dihadapi. Semua butuh kesabaran, kerja keras, keikhlasan, dan masih banyak lagi. Karakter dan life skill dibangun melalui interaksi bersama anak setiap hari.
Rasulullah menggunakan diri beliau. Seluruh indra & perangkat tubuh yang ALLAH beri adalah sarana Rasulullah dalam mendidik anak & cucu beliau. Dan seluruh perangkat tubuh itu, dikoordinir oleh pusat strategi pendidikan beliau yang bernama HATI yang lembut penuh kasih sayang. Contoh, seorang bayi dalam gendongan memipis gamis beliau dan ibu sang bayi yang menunjukkan kekesalannya malah ditegur oleh Rasul dengan rangkaian kalimat : Air kencing ini dapat aku cuci, tetapi kaget anakmu tak dapat aku ganti. Belasan abad kemudian yaitu hari ini, kita memahami bahwa dalam kepala sel anak terdapat satu trilyun sel halus yang menuntut perlakuan yang patut agar sel-sel itu tidak rusak. Jika hentakan, bentakan tiada belai kasih sayang & berbagai contoh lainnya dari ketidakpatutan diterima anak, mulai dini hingga perjalanan usia berikutnya hingga dewasa, maka ilmu pengetahuan “menjanjikan“ kegagalan besar yg siap diterima oleh kedua orang tuanya & semua pihak yang mendidik ketidakpatutan tersebut. Bukan saja hasil dunianya, tetapi yg lebih menakutkan adalah hasil akhiratnya.
Mari kita melihat bagaimana Rasulullah SAW dalam berinteraksi dengan anak. Semua anak yang dididik oleh Nabi SAW mampu mengukir kebesaran.
1. Menanamkan Nilai-nilai Ketauhidan
Mengajarkan tauhid kepada anak, mengesakan Allah dalam hal beribadah kepada-Nya, menjadikannya lebih mencintai Allah daripada selain-Nya, tidak ada yang ditakutinya kecuali Allah. Selain itu, orangtua harus menekankan bahwa setiap langkah manusia selalu dalam pengawasan Allah Swt. dan penerapan konsep tersebut adalah dengan berusaha menaati peraturan dan menjauhi larangan-Nya. Terlebih dahulu, orangtua selaku guru (pertama) bagi anak-anaknya harus mampu menyesuaikan tingkah lakunya dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam. Ini adalah pendidikan yang paling urgen di atas hal-hal penting lainnya.

2. Memperhatikan tahapan perkembangan anak dalam mendidik
 “Perintahkan anakmu untuk melaksanakan sholat di saat mereka berusia 7 tahun dan pukullah mereka karena sholat -yakni tidak mengerjakannya- di saat mereka telah berusia 10 tahun. Dan pisahkanlah mereka di tempat tidur” ( HR Abu Daud, Tirmidzi, Ad-Darimi, Ahmad, Ibnu Abu Syaibah, Ibnu Khuzaimah, Thahawy)

Fase perkembangan anak
•Lahir-1 tahun             : masa membangun kepercayaan
•2-3 tahun                   : masa membangun kemandirian
•4-5 tahun                   : masa membangun inisiatif.
  Aktif dan tegas dalam mengeksplorasi dunia melalui imajinasi dan pengalaman
•6-12 tahun                 : masa untuk berkarya tunjukan prestasi.
  Mengembangkan bakat dan kemampuan; mencapai kompetensi.
•Umur 12-18 tahun     : Masa mengembangkan identitas, menerima diri sendiri, dan mandiri

 3. Membangun hubungan yang erat dengan anak melalui bermain.
Rasulullah bersabda,“barangsiapa memiliki anak, hendaknya ia bermain dengannya layaknya anak”
Kisah Rasul dengan cucunya.
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjulurkan lidahnya kepada husain. Husain melihat merahnya lidahnya dan ia pun tersenyum riang karenanya . Diriwayatkan dari jabir, ia berkata,”aku menemui Rasulullah SAW & beliau sedang berjalan dengan 4 kakinya, dan di atas punggungnya ada hasan dan husain. Beliau lalu berkata. ”sebaik-baik onta adalah onta kalian berdua dan sebaik-baik penunggang adalah kalian berdua.”

 4. Membangun kemampuan berpikir anak
Kisah anak muda yang minta ijin berzinah kepada rasul. Cara rasul menanggapinya membantu anak remaja itu menggunakan pikirannya untuk mengambil keputusan atas dirinya. Penting bagi anak memiliki kemampuan menyelesaikan  masalahnya sendiri karena sepanjang hidupnya akan selalu menghadapi permasalahan dan pilihan hidup.

5. Berinteraksilah dengan lembut kepada anak
Rasulullah shallahu’alaihiwasallam bersabda,”sesungguhnya, sikap lembut tidak ada pada sesuatu kecuali pasti membuatnya indah dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali pasti mengeruhkannya”. Perlakuan kasar kepada anak hanya akan membuat anak bertambah membangkang atau bahkan membenci orang tuanya. Karenanya bersikaplah lemah lembut namun tetap tegas kepada anak.

6. Pujilah anak untuk memotivasinya
Rasulullah memotivasi Abdullah bin umar disaat Abdullah masih kecil dengan ucapan beliau, ”sebaik-baik lelaki adalah Abdullah bila ia sholat di malam hari. Setelah mendengar ucapan Rasulullah tersebut, Abdullah tidak tidur malam kecuali sedikit. Pujian yang baik hendaknya ditujukan kepada perilakunya dan bukan sekedar memuji orangnya.
Seorang anak, meski kecil, juga terdiri dari jasad dan hati. Mereka dilahirkan dalam keadaan bersih dan suci sehingga hatinya yang putih dan lembut itu pun akan mudah tersentuh dengan kata-kata yang hikmah. Anak-anak, terutama pada usia emas (golden age), cenderung lebih mudah tersentuh oleh motivasi ketimbang ancaman. Karenanya, hendaknya orangtua tidak mengandalkan ancaman untuk mendidik buah hati. Ketimbang mengancam, lebih baik orangtua memotivasi anak dengan mengatakan bahwa kebaikan akan mendapat balasan surga dengan segala kenikmatannya. Itu pulalah yang dicontohkan oleh Rasulullah kepada kita ketika beliau mendidik para sahabat.



   7. Menghindari banyak mencaci dan mencela anak
Anas Bin Malik mengungkapkan,”aku telah melayani Rasulullah selama sepuluh tahun dan beliau tidak pernah mengatakan hal buruk kepadaku atau mengatakan kepadaku,”mengapa kau lakukan ini,”atau”mengapa tidak lakukan ini?”

8. Keteladanan (bimbingan melalui perilaku langsung di hadapan anak)
Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam melewati seorang anak kecil yang sedang menguliti kambing. Beliau lalu berkata kepadanya,”menepilah! Aku akan memperlihatkan caranya padamu.”beliau lalu memasukkan tangannya antara kulit dan darah lalu melepaskan kulitnya dari arah tersebut sehingga ketiaknya.
Setiap anak akan belajar dari lingkungannya dan dalam hal ini lingkungan keluarga akan sangat berpengaruh pada perkembangan kepribadiannya. Orang-orang di sekelilingnya akan menjadi model dan contoh dalam bersikap. Sudah selayaknyalah orangtua memberi keteladanan kepada anak-anaknya. Dalam Islam, keteladanan dari orangtua sangat menentukan terlebih di zaman sekarang media tontonan tidak dapat diharapkan menjadi contoh yang baik bagi pembentukan akhlak anak-anak muslim.

9. Mendidik dengan Kebiasaan
Suatu kebaikan harus dimulai dengan pembiasaan. Anak harus dibiasakan bangun pagi agar mereka gemar melaksanakan shalat Subuh. Anak harus dibiasakan ke masjid agar mereka gemar melakukan berbagai ritual ibadah di masjid. Pembiasaan itu harus dimulai sejak dini, bahkan pembiasaan membaca Al-Quran pun bisa dimulai sejak dalam kandungan. Pembiasaan shalat pada anak harus sudah dimulai sejak anak berumur tujuh tahun.

10. Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak
Sebagai upaya menumbuhkan rasa percaya diri anak, Rasulullah Saw. menggunakan beberapa cara berikut. Saat sedang berpuasa, Rasulullah mengajak anak-anak bermain sehingga siang yang panjang terasa cepat. Anak-anak akan menyongsong waktu berbuka dengan gembira. Hal ini juga membuat anak memiliki kepercayaan diri sehingga sanggup berpuasa sehari penuh. Sering membawa anak-anak ke majelis orang dewasa, resepsi, atau bersilaturahim ke rumah saudara sebagai upaya menumbuhkan kepercayaan diri sosialnya. Mengajari Al-Quran dan As-Sunnah serta menceritakan sirah nabi untuk meningkatkan kepercayaan diri ilmiahnya.
Ada cerita dari pengalaman seorang ibu yang pendidikannya hanya sampai SD dan memiliki 13 anak, tetapi semuanya berhasil. Suatu ketika, ada orang yang bertanya kepada si ibu itu, “Doa apa yang dipakai ibu sehingga semuanya berhasil?” Jawabnya, “Saya dan suami saya tidak banyak berdoa. Tapi, bila anak saya bersalah atau saya tidak senang perbuatannya, saya selalu berkata, “Mudah-mudahan Tuhan memberimu petunjuk”. Jadi, anak ini tidak dimaki, dikutuk, atau dimarahi. Dan, kami kedua orang tuanya tidak pernah memberi makan mereka dengan makanan yang haram”.
       Semoga jika kita mau melakukan perubahan dalam rangka mencari keridhoan Allah semata, dapatlah Rasulullah memiliki ummat pengganti dari ummat beliau di zaman emas dahulu, yakni anak-anak kita. Anak yang kita didik dengan keikhlasan tanpa henti, menyelaraskan semua potensi ruhiyah & badaniahnya dengan menitikberatkan & berdasarkan pendidikan pada kekuatan hati nurani, baik yang didik maupun yang mendidik harus kuat landasan/pijakannya.

Selasa, 02 Oktober 2012

Arti Dari Sebuah Basmalah



Arti penting sebuah pemahaman tentang basmalah merupakan satu dari sekian rahasia yang harus diketahui dari seorang muslim. Dalam prakteknya ucapan basmalah menyertai setiap dimensi kehidupan seorang muslim dalam kesehariannya, basmalah juga adalah ucapan sakti dan sekaligus power ruhiyah yang mampu mengantarkan seorang muslim untuk senantiasa mengingat Tuhannya, yang pada gilirannya membawa setiap  denyut jantugnnya pada berbuat kebaikan guna membangun rumah dalam sorganya.

Apa dan bagaimana makna dari rangkaian kata special ini hingga memenuhi setiap awal surat-surat kitab suci Al Qur’an? Begitu pentingkah hingga setiap muslim sangat dianjurkan mengucapkannya pada semua awal perbuatan yang dia lakukan? Tidak ada satu haripun dalam kehidupan seorang muslim yang terlepas dari ucapan basmalah, apa rahasia dibalik kata ini? Dan masih banyak lagi setumpuk pertanyaan tentang kalimat special ini yang masih terpapar dalam benak seorang pemikir, semua itu menunggu jawaban yang mungkin hingga akhir jaman tidak akan pernah pudar, bukan karena habisnya pertanyaan telah terjawab, tapi karena rahasia yang tidak henti-hentinya mengalir seiring keilmuan manusia yang terus berkembang.

Luangkan waktu sejenak yang kita memiliki untuk berinteraksi dengan kalimat “bismillâhirrahmânirrahîm”. Di sini kita akan mempelajari poin - perpoin.
Ø  Poin pertama: bi yang artinya “dengan” dalam bismillah berbahasa arab mempunyai dua fungsi, sebagai pengiring (lil mushôhabah) atau alat bantu minta pertolongan (lil isti’ânah). Oleh karena itu urgensi ba’ sangatlah penting kaitannya dengan ideologi dasar Islam, dalam “bismillah” maknanya mengisyaratkan mengatakan bahwa “denganku segala sesuatu ada atau tidak ada”, dan hal itu tidak akan pernah terwujut kecuali oleh yang memiliki kemampuan maha sempurna, serta terlepas sama sekali dari cacat. Setelah kata “bi” haruslah mempunyai karakter ketuhanan, demikianlah sebagaimana dikatakan oleh ahli tafsir.

Ø  Poin ke dua: dalam susunan bahasa arab, basmalah ada kaitannya dengan kata kerja yang disembunyikan terletak di akhir (fi’il mahdzuf muta’akhar) kata basmalah tersebut. Sebagai contoh ketika tersaji hidangan makanan, kemudian kita hendak makan mengatakan “bismillah” (dengan nama Allah), maka ucapan tersebut sama halnya dengan kita mengatakan “bismillah saya akan makan”, atau ketika kita hendak mambaca mengatakan “bismillah” maka sama halnya kita mangatakan “bimillah saya mau membaca”.

Kata kerja yang dibuang atau yang tidak disebutkan tersebut berada pada setelah basmalah, mempunyai arti penting menunjukkan satu-satunya tidak ada yang lain (lil hashr). Misalkan “dengan nama Allah, saya mau membaca” berarti menunjukkan “saya kitakakan membaca kecuali hanya dengan nama Allah”. Rahasia penting bahwa unsur peletakan basmalah didahulukan sangat erat kaitannya dengan prinsip “la ilaha illa Allah”. Yang pada gilirannya basmalah menjadikan Allah sebagai sebab utama dalam semua tindakan.

Ø  Poin ke tiga: Allah, adalah nama dzat yang mengharuskan ada (wajibul wujud), satu-satunya yang mempunyai hak memiliki segenap pujian, nama termulia yang pernah ada. Tidak boleh menamakan diri dengannya selain Dia, penguasa langit dan bumi, Tuhan yang disembah oleh alam semesta (Al An’am: 3). Tatkala seorang muslim menyebut nama Allah dalam basmalah, berarti dia telah mendeklarasikan nama teragung dalam semesta, satu dari sekian tanda bukti dari penghambaannya pada Allah. ‘Alâ bidzikrillah tathmainul qulûb.
Ø
Ø  Poin ke empat: secara terminologi, Ar Rahmân artinya Dialah Allah yang memiliki rahmah begitu luas. Kata dalam bentuk fi’lân tambahan huruf alif dan nun dalam bahasa arab memberi arti melimpah luas. Sedangkan Ar Rahîm (tambahan huruf ya’ sebelum huruf akhir) menunjukkan kata kerja fi’il, dikarenakan bentuk fa’îl semakna dengan fâ’il yang menunjukkan kata kerja fi’il. Dua kata ar rahmân dan ar rahîm keduanya diambil dari kata yang sama yaitu rahmah yang artinya ihsan atau iradah ihsan.

Lantas apa yang membedakan dari ar rahmân dan ar rahîm? Apa fungsi penggabungan dari dua kata tersebut? Kata ar rahmân menunjukkan rahmat Allah mencakup semua yang ada di alam semesta, baik kafir ataupun muslim di dunia, sedangkan ar rahîm hanyalah khusus untuk muslimin semata baik di dunia dan akhirat. Penggabungan dari ar rahmân dan ar rahîm memberi arti bahwa hanya kepada Allah kita meminta nikmat sekecil apapun dan sebagaimana juga kepada Allah kita meminta nikmat sebesar apapun yang kita inginkan.

Ada sebuah riwayat yang hendaknya perlu diperhatikan oleh segenap muslim dimanapun berada, “Setiap perkara penting yang tidak didahului dengan bismillâhhirrahmânnirrahîm maka perbuatan tersebut terpotong.” (HR. Abu Daud)
Hadis di atas menunjukkan betapa pentingnya makna basmalah terucap sebelum melaksanakan rutinitas positiv, tanpa dengan basmalah bisa mengurangi kesempurnaan. Hadist di atas menunjukkan semua perkara, “semua perkara” umum mencakup semua hal.

Sedangkan makna “penting” adalah pengkhususan dari yang umum, yaitu  segala sesuatu yang mendapat perhatian lebih oleh syariat, oleh karena itu ulama’ fiqih menyebutkan persyaratan yang diperbolehkannya menyebut basmalah. Pertama: bukan perbuatan yang hina, seperti tidak diperkenankan benyebut basmalah saat buang air besar. Kedua: bukan perkara yang diharamkan atau yang dimakruhkan, seperti berbuat zina. Ketiga: tidak dalam dzikir yang telah ditetapkan syari’ah, seperti penyebut lâ ilâha illallâh tidak di mulai dengan menggunakan basmalah. Keempat: perbuatan yang syariat menetapkan dimulainya tanpa menyebutkan basmalah, seperti melaksanakan solat tanpa menyebut basmalah, akan tetapi dimulai dengan takbir.
(Us Intan Shelvy)

Jumat, 28 September 2012

PENDIDIKAN TPA




TPA Al Ihsan adalah merupakan lembaga yang di khususkan untuk anak usia SD .Tujuan umumnya yaitu menyiapkan anak didik agar menjadi generasi qurani.yaitu generasi yang mencintai al quran dan menjadikan al quran sebagai pandangan hidup.Sedangkan tujuan utamanya adalah mendidik santri mampu membaca alquran dengan benar sesuai kaidah ilmu tajwid.TPA  ini juga disebut pengajian anak - anak dalam bentuk baru dengan menggunakan metode praktis.

Setelah berpengalaman dalam mendidik murid - murid dan terus berinovasidengan mengikuti pelatihan dan metodologi pengajaran khusus TPQ terutama dengan memakai metode qiroati,TPQ menyelenggarakan RAKER untuk memperbaiki kurikulum.

Dalam pembelajaranya dilakukan dengan menggunakan metode Qiroati,dilakukan pemisahan anak sesuai dengan jilidnya masing - masing. Alasanya supaya lebih enak dalam pengkondisian anak dan pengelolaan kelasnya. Setiap kelasnya dipegang oleh satu orang guru dan tidak ganti - gantiagar tidak bingungsaat mendidik santri karena setiap guru cara mengajarnya berbeda-beda.Pembelajaranya tidak langsung sorogandengan metode klasikaldalam ruangan terbatas sehingga mudah dikondisikan.Kenaikan jilid menunggu kepala TPQ dengan rekomendasi guru kelas.

Untuk peningkatan mutu asatidz tersebut dibina langsung korcab qiroati dan dan diikuti semuaanggota metode qiroati.Sedangkan asatidz yang belum lulus tashih dengan : LPGQ  setiap satu minggu sekali  dikantor cabang Qiroati  kecamatan,Pembinaan lembaga tiap satu  minggu sekali.Meningkatkan kualitas guru dengan tadarus . Dan juga mengikuti pelatihan peningkatan guru minimal tiga bulan sekali.

Hambatan / kendala nya antara lain : rata- rata murid tidak sampai menyelesaikan tashih qiroati,kurang dukungan dari orang tua ( orang tua lebih mementingkan pendidikan formal.Solusinya Mengadakan koordinasi dengan wali santri









Menjadi Guru Berkarakter



Upaya  implementasi pendidikan karakter di sekolah, tentu tidak lepas dari peran guru. Berdasarkan kajian teoritis maupun empiris diyakini bahwa keberhasilan pendidikan karakter salah satunya diwarnai oleh  faktor guru itu sendiri. Dalam paradigma Jawa, pendidik diidentikkan dengan guru, yang mempunyai makna "digugu dan ditiru" artinya mereka yang selalu dicontoh dan dipanuti. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah seorang yang pekerjaannya mengajar.
“Seorang guru adalah seorang yang telah menyerahkan dirinya dalam organisasi sekolah, dia tidak bisa melakukan tindakan dan berperilaku sesuai keinginan sendiri, tetapi harus dapat menyesuaikan diri dengan peran dan tugasnya sesuai peran dan tuntutan tugas serta aturan organisasi yang menjadi kewajiban bagi seorang guru, oleh karena itu kita, guru  “harus tahu aturan”, “bersedia diatur” dan “bisa mengatur”. Tahu aturan bermakna memahami bagaimana mekanisme kerja organisasi, dengan pemahaman itu maka seorang guru harus mau dan bisa diatur sesuai dengan mekanisme yang berlaku, serta harus bisa mengatur dalam arti mengelola secara optimal apa yang menjadi peran dan tugasnya dalam organisasi sekolah”
Kesadaran dan kerelaan menerima kenyataan bahwa interaksi dengan siswa sebagai suatu keseluruhan akan menumbuhkan perhatian (concern), rasa peduli (caring), rasa berbagi (sharing), dan kebaikan yang tulus (kindness).
Guru tetap merupakan unsur dasar pendidikan yang sangat berpengaruh terhadap proses pendidikan, terlebih bagi penciptaan SDM berkualitas. Dalam bahasa arabnya, “al-Thariqah ahammu min al-maddah, wa lakin al-mudarris ahammu min al-thariqah” (Metode pembelajaran lebih penting daripada materi belajar, tetapi eksisntensi guru dalam proses pembelajaran jauh lebih penting daripada metode pembelajaran).
Nur Kholiq (2011) dalam tulisannya berjudul “Guru berkarakter bagi dunia pendidikan” menjelaskan bahwa guru yang berkarakter adalah guru yang mempunyai prinsip hidup dan perenungannya dan kebebasan dalam berkreasi. Guru bekarakter akan berusaha menciptkan iklim belajar yang efektif dan menyenangkan, dengan kreativitas metode pembelajaran, untuk mengurangi kejenuhan dan menyesuaikan dengan konteks pembelajaran sehingga tumbuh kegairahan dan motivasi instrinsik dan ekstrinsik.
Uraian di atas menyimpulkan bahwa Indonesia akan berjaya dan dapat bersaing di dunia internasional jika ditopang dengan SDM unggul dan berkualitas. Mewujudkan hal itu, tidak bisa dilepaskan dari pendidikan bermutu. Nah, untuk meralisasikan pendidikan bermutu, sudah barang tentu kehadiran guru profesional yang berkarakter tidak dapat dinafikan.





Senin, 24 September 2012

Pendidikan yang Berkarakter



Pendidikan yang berkarakter sangat menjanjikan untuk menjawab suatu masalah persoalan pendidikan di Indonesia. Namun dalam prakteknya, seringkali terjadi masalah  dalam penerapannya. Tetapi sebagai sebuah upaya, pendidikan karakter haruslah sebuah program yang terukur pencapaiannya. Bicara mengenai pengukuran artinya harus ada alat ukurnya, kalau  alat ukur pendidikan matematika jelas, kasih soal ujian jika nilainya diatas standard kelulusan artinya dia bisa. Nah, bagaimana dengan pendidikan karakter?
Observasi atau pengamatan yang disertai dengan indikator perilaku seorang siswa merupakan salah satu contoh alat ukurnya. Misalnya, mengamati seorang siswa di kelas selama pelajaran tertentu, tentunya siswa tersebut tidak tahu saat dia sedang di observasi. Nah, kita dapat menentukan indikator jika dia memiliki perilaku yang baik saat guru menjelaskan, anggaplah mendengarkan dengan seksama, tidak ribut dan adanya catatan yang lengkap. Mudah bukan? Dan ini harus dibandingkan dengan beberapa situasi, bukan hanya didalam kelas saja. Ada banyak cara untuk mengukur hal ini, gunakan kreativitas anda serta kerendahan hati untuk belajar lebih maksimal agar pengukuran ini lebih sempurna.
Adanya pendidikan yang berkarakter tentunya dimaksudkan untuk menjadi salah satu jawaban terhadap beragam persoalan bangsa yang saat ini banyak dilihat, didengar dan dirasakan, yang mana banyak persoalan muncul yang di indentifikasi bersumber dari  kurangnya  pendidikan dalam menyuntikkan nilai-nilai moral terhadap peserta didiknya. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa tujuan pendidikan adalah bukan hanya melahirkan insan yang cerdas, namun juga menciptakan insan yang berkarakter kuat. Seperti yang dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni “intelligence plus character that is the goal of true education” (kecerdasan yang berkarakter adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).
Banyak hal yang dapat dilakukan untuk merealisasikan pendidikan karakter di sekolah. Konsep karakter tidak cukup dijadikan sebagai suatu poin dalam silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran di sekolah, namun harus lebih dari itu, dijalankan dan dipraktekan. Mulailah dengan belajartaat dengan peraturan sekolah, dan tegakkan itu secara disiplin. Sekolah harus menjadikan pendidikan karakter sebagai sebuah tatanan nilai yang berkembang dengan baik di sekolah yang diwujudkan dalam contoh dan seruan nyata yang dipertontonkan oleh tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah dalam keseharian kegiatan di sekolah.
Pendidikan berkarakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pemangku kepentingan dalam pendidikan, baik pihak keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah dan juga masyarakat luas. Oleh karena itu, langkah awal yang perlu dilakukan adalah membangun kembali kemitraan dan jejaringpendidikan yang kelihatannya mulai terputus diantara ketiga stakeholders terdekat dalam lingkungan sekolah yaitu guru, keluarga dan masyarakat. Pembentukan dan pendidikan karakter tidak akan berhasil selama antara stakeholder lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan. Dengan demikian, rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan yang kemudian didukung oleh lingkungan dan kondisi pembelajaran di sekolah yang memperkuat siklus pembentukan tersebut. Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang.Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika dan estetika dalam pembentukan karakter  suatu bangsa .